Monday, April 28, 2008

PLC

Studi Eksperimental tentang Pengaruh Sudut Putar terhadap Gaya Angkat untuk Berbagai Sudut Potong pada Bola

Filed under: Turning
Studi eksperimental tentang pengaruh sudut putar terhadap gaya angkat untuk berbagai sudut potong pada bola telah dilakukan. Sudut potong yang digunakan adalah 30o, 45o, 53o, 55o, dan 75o. Gaya angkat diukur dengan menggunakan timbangan gaya pada terowongan angin dan kecepatan angin diatur sehingga didapat bilangan Reynolds aliran 5,3 x 104 dan 6,0 x 104. Sudut putar aliran divariasikan dari 0o sampai 60o. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum gaya angkat naik bila sudut putar naik. Pada sudut putar tertentu gaya angkat mencapai maksimum dan setelah sudut tersebut gaya angkat turun. Selanjutnya, untuk sudut putar tertentu, bila sudut potong naik gaya angkat juga naik.
An experimental study on the effect of turning angle on lift force for various cut angles on spheres is performed. The cut angles used were : 30, 45, 53, 55, and 75. Lift force was measured using a wind tunnel force balance and the wind speed was set so that a corresponding Reynolds number of 5.3 x 104 was achieved. Wind turning angle was varied from 0 to 60. Experimental results show that, in general, lift increases as the turning angle increases. At a particular turning angle lift attains a maximum and beyond that turning angle lift decreases. Next, for particular turning angle, as the sphere cut angle increases the lift also increases.

Peningkatan Unjuk Kerja Desain Flexible Shield untuk Pompa Sabun Dengan Menggunakan Metode Elemen Hingga

Filed under: Turning
Flexible shield adalah bagian sistem pompa untuk mengeluarkan suatu produk sabun cair, disamping itu flexible shield juga berfungsi untuk memproteksi pompa sabun dari kemasukan air. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa desain flexible shield yang ada saat ini belum sepenuhnya berhasil. Hal iniini disebabkan gaya reaksi vertikal pada flexible shield yang terjadi belum cukup untuk mengembalikan flexible shield ke posisi semula dengan sendirinya setelah mencapai deformasi 9 mm. Sedangkan kebutuhan desain flexible shield adalah dapat kembali keposisi semula dengan sendirinya setelah mencapai deformasi 10 mm.
Pada percobaan sesungguhnya, agar flexible shield dapat kembali ke posisi semula, keadaan tersebut digambarkan dengan tidak adanya nilai minimum turning point pada grafik gaya sebagai fungsi perpindahan (force against displacement graph). Pada simulasi dengan menggunakan metode elemen hingga (ANSYS 5.7), kondisi tersebut diilustrasikan dengan grafik gaya sebagai fungsi perpindahan, sama seperti pada percobaan sesungguhnya. Minimum turning point pada force against displacement graph ini menggambarkan mekanisme penguncian yang menyebabkan flexible shield tidak dapat kembali ke posisi semula setelah terjadinya deformasi 9 mm. Untuk meniadakan pengaruh mekanisme penguncian selama proses deformasi, maka pada force against displacement graph haruslah tidak terdapat minimum turning point.
Kombinasi material dan geometri adalah dua faktor yang sangat berpengaruh pada performansi desain flexible shield yang baru. Dengan menggunakan analisa dari Metode Elemen Hingga, dapat diketahui force against displacement graph dari setiap desain baru yang akan dibuat, sehingga dapat diketahui performansi dari setiap desain yang ada. Pada akhirnya desain baru dapat diketahui unjuk kerjanya dengan posisi minimum turning point 11 mm (melebihi dengan kebutuhan desain yang ditentukan).

PENGENDALIAN KECEPATAN PUTAR MOTOR INDUKSI 1 PHASA (TURNING SPEED CONTROLLING OF 1 PHASA INDUCTION MOTOR)

Filed under: Turning
Motor Induksi adalah salah satu jenis mesin listrik yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari baik untuk industri (paling banyak motor induksi 3 phasa) ataupun rumah tangga (paling banyak motor induksi 1 phasa). Faktor yang menyebabkan hal tersebut karena motor induksi memiliki beberapa kelebihan antara lain: harga lebih murah, mudah dalam perawatan, konstruksi sederhana, tetapi motor induksi juga memiliki kekurangan antara lain: motor induksi memiliki nilai slip (perbedaan kecepatan putar medan stator terhadap kecepatan medan rotor) yang sangat besar, motor induksi sulit dalam pengen-dalian kecepatan putarnya. Beberapa metode yang digunakan dalam pengen-dalian kecepatan putar motor induksi adalah metode pengendalian motor induksi dengan pengaturan frekuensi input, metode pengendalian motor induksi dengan mengatur nilai tegangan input. Dalam penelitian ini menggunakan metode pengaturan nilai tegangan input karena dinilai lebih murah dibanding dengan metode pengaturan frekuensi input, alat pengendali yang digunakan mengatur nilai tegangan menggunakan komponen jenis Triac dan Diac, dalam pengujian tegangan input mulai 10 Volt - 170 Volt, pada saat 10 – 40 Volt motor induksi tetap berhenti, pada saat tegangan input 50 Volt motor induksi mulai berputar dengan kecepatan 401.1 Rpm, pada saat tegangan input 60 – 150 Volt ke-naikan kecepatan putar motor induksi sangat signifikan, kecepatan putar motor induksi pada saat 160 keatas mulai menunjukkan kecilnya perubahan kecepatan putar.
October 1, 2007

Bengkel Mesin

Filed under: Turning, Milling

1. Mesin Bubut Konvensional

Mesin bubut panjang dari 750 mm. sampai 1500 mm dengan keakuratan 0,01 mm.

2. Mesin Frais

Mesin Frais Universal Hoizontal dan Vertical panjang dari 400 mm sampai 800 mm. Spindle Noze ISO 40 dengan keakuratan 0.05 mm.

3.
Mesin Sekrap

Mesin sekrap lengan kuat panjang langkah 400 mm dengan panjang langkah menyilang 350 mm.

4.
Mesin Hobbing

Mesin Hobbing dengan kapasitas diameter 370 mm dan modul M4 serta tinggi senter 235 mm.

5.
Mesin EDM (Electric Distcharge Machine)

Mesin EDM model YH 120 dengan ukuran meja 400 x 600 mm dan maksimum distance 430 mm.

6. Mesin Gerinda Datar

Mesin gerinda datar (Surface Griding Machine) ukuran meja 360 x 600 mm dengan keakuratan pemakaian 0.00 25 mm.

7. Mesin Gerinda Universal (Universal Cylinder Grinder)

Mesin gerinda silinder dengan kapasitas panjang 500 mm dan keakuratan 0,005 mm dapat digunakan untuk penggerindaan.

8. Mesin Gerinda Asah Universal (Universal Tool and Cutter Grinder)

Mesin gerinda asah universal dapat digunakan untuk mengasah hampir semua jenis pisau frais (milling cutter) dan pisau profil lainnya.

9. Mesin Grafir

Mesin grafir ukuran maksimum sumbu X = 80 mm sumbu Y = 220 mm dengan rasio 1:2 sampai 1:8.

September 1, 2007

Turning : Engine Lathe

Filed under: Turning

Turning is another of the basic machining processes. Information in this section is organized according to the subcategory links in the menu bar to the left.

Turning produces solids of revolution which can be tightly toleranced because of the specialized nature of the operation. Turning is performed on a machine called a lathe in which the tool is stationary and the part is rotated. The figure below illustrates an engine lathe. Lathes are designed solely for turning operations, so that precise control of the cutting results in tight tolerances. The work piece is mounted on the chuck, which rotates relative to the stationary tool.

spd engine lathe closeup

Turning refers to cutting as shown below.
turning

The term "facing" is used to describe removal of material from the flat end of a cylindrical part, as shown below. Facing is often used to improve the finish of surfaces that have been parted.
turn facing

No comments: